Setiap bahasa punya kata-kata yang tidak bisa diterjemahkan dengan pas ke bahasa lain, misalnya bahasa Inggris. Kata-kata yang tak bisa diterjemahkan ini menyimpan emosi, situasi, atau gagasan yang begitu khas bagi suatu budaya sehingga butuh satu kalimat utuh untuk menjelaskannya. Mempelajarinya seperti mengintip cara lain dalam memandang dunia, sekilas gambaran tentang bagaimana berbagai budaya merangkum kehidupan dalam satu ungkapan.
Ambil contoh kata bahasa Portugis “saudade.” Kata ini menggambarkan rasa rindu yang mendalam pada sesuatu atau seseorang, sering kali bercampur antara rasa sedih dan bahagia. Ini bukan sekadar merindukan seseorang, tetapi juga menghargai kenangan tentangnya pada saat yang sama. Tidak ada satu kata pun dalam bahasa Inggris yang bisa menangkap maknanya secara utuh. Itulah sebabnya “saudade” menjadi simbol budaya di negara-negara berbahasa Portugis, terutama dalam musik dan puisi.
Dalam bahasa Jepang, ada “komorebi,” yang berarti cahaya matahari yang menembus sela-sela dedaunan pohon. Bayangkan kamu sedang berjalan di taman dan melihat cahaya lembut yang jatuh berbintik-bintik di antara dahan — itulah “komorebi.” Kata ini mengingatkan kita bahwa bahasa Jepang punya kata untuk detail alam yang paling kecil dan halus sekalipun, sekaligus menunjukkan bagaimana bahasa bisa membuat kita lebih peka terhadap dunia di sekitar kita.
Dari bahasa Jerman, ada “Fernweh,” yaitu perasaan rindu pada tempat-tempat yang jauh. Rasanya mirip dengan wanderlust, tetapi lebih dalam, hampir seperti rindu kampung halaman, hanya saja untuk tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Bagi orang yang gemar bepergian, kata ini menggambarkan jiwa yang gelisah karena ingin menjelajahi hal-hal yang belum dikenal.
Kata istimewa lainnya adalah kata bahasa Tagalog “gigil,” yang berarti dorongan kuat untuk mencubit atau meremas sesuatu karena terlalu menggemaskan. Kalau kamu pernah melihat bayi atau anak anjing lalu merasakan reaksi yang sulit ditahan itu, kamu tahu apa itu “gigil.” Bahasa Inggris tidak punya padanannya, tetapi perasaan ini universal.
Dalam bahasa Swedia, ada “fika,” yang bukan sekadar “rehat kopi.” Ini adalah tradisi meluangkan waktu untuk memperlambat langkah, menikmati kopi dan kue, dan yang terpenting, terhubung dengan orang lain. Fika adalah kebiasaan budaya yang menghargai keseimbangan dan kebersamaan, sekaligus membuktikan bahwa terkadang sebuah kata bisa mencerminkan cara hidup.
Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa bahasa bukan hanya soal tata bahasa atau daftar kosakata. Bahasa adalah soal budaya, kenangan, dan cara orang memaknai pengalaman mereka. Kata-kata yang tak bisa diterjemahkan menunjukkan betapa beragamnya cara manusia berekspresi. Kata-kata ini memperlihatkan bahwa perasaan yang kita semua alami bisa hadir dalam bentuk yang berbeda, tergantung dari mana kita berasal.
Pada akhirnya, mempelajari kata-kata yang tak bisa diterjemahkan bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi cara untuk terhubung dengan kreativitas ekspresi manusia. Hal ini membuktikan bahwa sebagian emosi melampaui batas negara, dan terkadang, cara terbaik untuk memahaminya adalah dengan mempelajari kata baru.



