Bahasa adalah sesuatu yang hidup. Bahasa tumbuh, berkembang, dan saling meminjam, seperti para pelancong yang bertukar hadiah di sepanjang perjalanan. Setiap kali sebuah kata melintasi batas negara, kata itu membawa sepenggal sejarah, sebuah kisah tentang pertemuan antarbudaya. Lewat pertukaran inilah bahasa tetap hidup dan dunia menjadi semakin terhubung melalui kata-kata.
Ambil contoh bahasa Inggris. Bahasa ini termasuk salah satu bahasa yang paling banyak bercampur di dunia. Lebih dari 60 persen kosakata bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin atau Prancis, berkat invasi, perdagangan, dan penjelajahan selama berabad-abad. Kata “restaurant” berasal dari bahasa Prancis, “chocolate” dari bahasa Nahuatl, dan “bungalow” dari bahasa Hindi. Setiap kata itu bagaikan oleh-oleh dari budaya lain, yang kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di seluruh dunia.
Bahasa Spanyol dan Portugis juga punya kebiasaan meminjam yang sama. Saat kedua bahasa ini tiba di benua Amerika, keduanya menyerap kata yang tak terhitung banyaknya dari bahasa penduduk asli. Dari bahasa Spanyol, dunia mengenal “tomate,” “chocolate,” dan “canoa,” yang semuanya berasal dari bahasa-bahasa asli Amerika. Sebaliknya, budaya setempat mendapat kata-kata baru untuk menyebut hewan, makanan, dan peralatan yang dibawa dari Eropa. Perpaduan ini melahirkan bahasa yang lokal sekaligus global.
Di Asia, kisahnya tak kalah kaya. Bahasa Indonesia, misalnya, memiliki kosakata dari bahasa Sanskerta, Arab, Belanda, Tionghoa, dan Inggris. Kata “bahasa” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, sedangkan “kantor” berasal dari bahasa Belanda. Perpaduan ini mencerminkan sejarah panjang Indonesia sebagai persimpangan perdagangan dan budaya, tempat kata-kata baru datang bersama setiap kapal dan menetap selama berabad-abad.
Bahasa gaul zaman sekarang pun menunjukkan bahwa bahasa terus berkelana. Media sosial menyebarkan ungkapan lebih cepat daripada sebelumnya. Kata dari bahasa Jepang seperti “kawaii” atau dari bahasa Spanyol seperti “hola” bisa menjadi bagian dari budaya internet global dalam semalam. Penutur bahasa Inggris kini memakai “hygge” dari bahasa Denmark untuk menggambarkan rasa nyaman dan hangat, atau “ubuntu” dari bahasa Zulu untuk menyebut rasa kemanusiaan bersama. Setiap kata serapan menyimpan kisah tentang keterhubungan.
Yang membuat semua ini begitu menarik, bahasa tidak sekadar mengambil kata — bahasa juga membentuknya ulang. Kata serapan sering mendapat pelafalan baru, makna baru, bahkan identitas baru. Kata “garage” dari bahasa Prancis menjadi “garasi” dalam bahasa Indonesia. Kata “computer” dari bahasa Inggris menjadi “kompyuter” dalam bahasa Tagalog. Perubahan-perubahan ini membuktikan bahwa saat kata berkelana, kata ikut menyesuaikan diri, sama seperti manusia.
Mempelajari kata serapan mengingatkan kita bahwa bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Bahasa adalah catatan tentang perpindahan, rasa ingin tahu, dan kreativitas manusia. Setiap kata yang kita ucapkan mungkin sudah menyeberangi samudra dan melewati berabad-abad sebelum sampai di bibir kita. Lain kali saat kamu mengucapkan “teh,” ingatlah bahwa kata ini bermula dari “te” dalam bahasa Tionghoa, berlayar bersama para pedagang, lalu sampai ke hampir semua bahasa di dunia.
Pada akhirnya, bahasa adalah bukti bahwa dunia sejak dulu selalu terhubung. Bahasa membawa sejarah, imajinasi, dan pengalaman kita bersama sebagai manusia. Saat kita mempelajari asal-usul kata yang kita pakai, kita tidak hanya belajar kosakata, tetapi juga belajar tentang diri kita sendiri.



